FGD – Pengaruh Melemahnya Rupiah Terhadap Harga Bahan Pokok Menjelang Ramadhan

0
261
tampil

Medan – Jaringan Pengusaha Nasional Provinsi Sumatera Utara (Japnas Sumut) mengadakan Focus Group Discussion (FGD) terkait melemahnya Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) serta pengaruhnya terhadap harga bahan pokok menjelang Ramadhan pada Jum’at, (11/5) di Coworking Space SAGA Creative Hub, Jl. Setia Budi Medan.

 

Ketua Umum Japnas Sumut Syahrul Akbar, SP menyoroti melemahnya Rupiah yang telah menembus angka Rp. 14.085,- per Dolar (AS) dikhawatirkan akan berdampak kepada melonjaknya harga bahan pokok khususnya menyambut bulan suci Ramadhan. Hal ini juga dipengaruhi oleh banyaknya bahan pokok kita yang berasal dari import.

 

Direktur Utama PD Pasar Kota Medan Rusdi Sinuraya mengatakan, “Hal yang mempengaruhi inflasi ialah kebutuhan pokok, di pasar biasanya seperti cabai dan sebagainya. Namun sampai saat ini harga cabai di pasar tergolong masih normal, kisaran Rp. 26.000/ kg sampai yang tertinggi Rp. 30.000/ kg di pasar Sei Sikambing”. Fenomena pasar musiman justru sangat membantu meramaikan suplai pasar, tambah Rusdi.

 

Melemahnya Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat hingga 9 Mei 2018 tercatat sebesar 1,2%. Hal ini disampaikan oleh Kepala Divisi Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Wilayah Sumatera Utara Demina R. Sitepu. Demina menambahkan, “Rupiah tergolong melemah tidak terlalu buruk. Dibandingkan negara lain seperti Thailand (2,7%) Philipina (4,04%) Turki (5,27%) bahkan Brazil sebesar (7,9%)”.

 

Bank Indonesia dewasa ini sedang gencar mengelola ekspektasi pasar. Demina mengklarifikasi bahwa Rupiah per tanggal 11 Mei 2018 telah kembali menguat di angka Rp. 13.958,- per Dolar Amerika Serikat. Demina Sitepu juga mengajak para pelaku bisnis untuk gencar melakukan substitusi import. “Permasalahan terbesar ialah barang yang di import digunakan sebagai konsumsi domestik, bukan untuk di re-export. Para pelaku bisnis harus gencar meningkatkan produk yang berorientasi export”, tambah Demina.

 

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Utara M. Misbah menerangkan, “Kenaikan Dolar sebesar 1,2% belum berimbas ke harga komoditas di pasar. Tim Satgas Pangan Sumatera Utara yang terdiri dari Pemprovsu, Bank Indonesia, Bulog dan Polda telah rutin melakukan pengawasan dan monitoring mulai dari industri, pergudangan, hingga ke pasar. Ramadhan tahun 2017 tercatat tidak ada kenaikan harga yang signifikan”.

 

Kepala Dinas Pertanian Provsu yang diwakili oleh Ir. Gosen Sirait juga menyampaikan harga bahan pokok masih normal dan ketersediaan stok sampai saat ini masih normal.

 

Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumatera Utara Ir. A. Syafri Nasution juga menambahkan, “Satgas Pangan yang dikomandoi oleh Direskrimsus Polda Sumut sudah berada di lapangan. Sampai saat ini belum ada efek melemahnya Rupiah terhadap harga pangan. Sebelumnya diakui bahwa belum ada sinergi antara pemerintah melalui Kementerian dengan Polri. Namun sekarang semenjak tahun 2017 kenaikan harga bahan pokok menjelang Ramadhan dan Lebaran sudah dapat ditekan sekecil mungkin”.

 

“Biasanya ditingkat petani, harga bahan pokok cenderung normal. Namun dijalur distribusi sering kali terdapat penambahan harga yang signifikan”, tutur Syafri. Namun di tahun ini kita optimis dan tidak perlu dikhawatirkan akan ada lonjakan harga menjelang Ramadhan dan Lebaran. Hal itu juga disebabkan stok telah disiapkan jauh hari sebelumnya. “Yang perlu dikhawatirkan justru daya beli masyarakat”, tutup Syafri.

 

Syahrul menambahkan, “Dari sisi pelaku bisnis pelemahan Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat belum terlalu berpengaruh signifikan. Bagi pelaku export justru hal ini sangat menguntungkan, tapi tidak untuk pelaku export yang menggunakan fasilitas kredit dari luar negeri ya.” Pelaku usaha di sektor perikanan hanya sedikit mendapatkan dampak dari melemahnya Rupiah, khususnya dari sisi pakan yang ikut naik karena bahannya berasal dari import.

 

Pelaku usaha sektor perikanan yang tergabung di dalam Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) M. Ridho Nasution menjelaskan, “Bahwa saat ini kami sedang melakukan riset, khususnya dalam melakukan substitusi import dari bahan pakan ikan. Kedepan akan semakin ditekan pengaruh import dalam sektor bisnis ini”, tuturnya.

 

Adapun Focus Group Discussion (FGD) ini diinisiasikan oleh Jaringan Pengusaha Nasional Provinsi Sumatera Utara (Japnas Sumut). Turut hadir dalam FGD, Kordinator Analis Ekonomi Bank Indonesia Wilayah Sumatera Utara Elian Ciptono, Pengusaha Perkebunan Kelapa Sawit yang juga merupakan Ketua Harian Japnas Sumut Deny Bahroeny, Pengusaha Karet asal Sibolga Subhan Tambunan, Pengusaha Property dan Kecantikan Chey Cindy Meliala, Pengusaha  Travel Shella Fitriani, Notaris Muda Febrina Annisa, beserta perwakilan pelaku usaha lainnya yang tergabung dalam sejumlah asosiasi di Sumatera Utara.